Jumat, 03 Oktober 2008

ADAB MEMBACA AL-QUR'AN

ADAB MEMBACA AL-QUR’AN

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah, mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunianya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri (Fathir:29-30)
Ayat ini menyebutkan tentang keutamaan membaca al-Qur’an, pada ayat lain al-Qur’an memberi pujian akan segolongan ahli kitab:
Mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari sedang mereka juga bersujud. (QS. Ali Imran : 113)
Rasulullah saw banyak memotivasi kita umatnya untuk membaca al-Qur’an, beberapa hadits berikut akan membuka wawasan kita, bahkan untuk keadaan yang sulitpun kita tetap dianjurkan untuk dekat bersama al-Qur’an.
Dari Aisyah ra. Dia berkata:”Rasulullah saw bersabda: “Siapa yang membaca al-Qur’an dan dia mahir, maka dia bersama para malaikat penulis yang mulia lagi berbakti, sedangkan orang yang membaca al-Qur’an dan dia gagap dalam bacaannya maka dia mendapatkan dua pahala.”(HR.Muttafaq Alaih)
Dari Abu Umamah, dia berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Bacalah al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.”(HR.Muslim)
Dari Ibnu Mas’ud dia berkata: “Rasulullah saw bersabda:”Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka dia mendapatkan satu pahala, dari satu kebaikan itu berlipat sepuluh kebaikan yang serupa. Aku tidak mengatakan, alif lam mim satu huruf, tapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.
Dari abu Said dari Nabi saw beliau bersabda: “Rabb Tabaaraka wa Ta’ala berfirman,”Barangsiapa disibukkan al-Qur’an sehingga tidak sempat memohon kepada-Ku, maka Aku akan memberinya sesuatu yang lebih baik dari apa yang kuberikan kepada orang-orang yang meminta. Dan kelebihan kalam Allah atas semua perkataan ialah seperti kelebihan Allah atas makhluq-Nya. (R. at-Tirmidzi)
Dari Abu Musa al-Asy’ary dia berkata:Rasulullah saw bersabda: “Perumpamaan orang Mu’min yang membaca al-qur’an itu seperti utrujah, baunya harum dan rasanya manis. Sedangkan perumpamaan orang Mu’min yang tidak membaca al-Qur’an seperti kurma, tidak berbau namun rasanya manis. Sedangkan perumpamaan orang Munafik yang membaca al-Qur’an seperti Raihanah, baunya harum namun rasanya pahit. Sedangkan perumpamaan orang Munafik yang tidak membaca al-Qur’an seperti hanzalah, tidak berbau dan rasanya pahit. {HR.Bukhari, Muslim, Nasa’i dan Ibnu Majah).
Tidak hanya bagi Mu’min bahkan untuk seorang yang Munafik al-Qur’an punya pengaruh yang dahsyat, hal ini pula ada kisah sahabat yang masuk Islam, salah satunya karena mendengar bacaan al-Qur’an.
Al-Qur’an merupakan mu’jizat dari Allah SWT untuk Nabi Muhammad SAW. Membaca al-Qur’an dengan tilawah yang baik mempunyai pengaruh dalam memahami makna-makna Al-Qur’an dan menangkap rahasia kemukjizatan Al-Qur’an. Sabda Nabi saw: “Barang siapa ingin membaca Al-Qur’an dengan merdu seperti ketika diturunkan, hendaklah ia membacanya menurut bacaan Ibnu Ummi Abdin yaitu Ibnu Mas’ud”. Ulama terdahulu membaca Al-Qur’an dengan lafal Al-Qur’an yang baik dan benar hal ini dikenal dengan Tajwidul Al-qur’an. Tajwid adalah memberikan kepada huruf akan haknya dan tertibnya, mengembalikan huruf kepada makhraj dan asalnya, serta menghaluskan pengucapannya dengan cara yang sempurna tanpa berlebihan, kasar, tergesa-gesa dan dipaksa-paksakan.[1]
Tajwid sebagai suatu disiplin ilmu mempunyai kaidah tertentu yang harus menjadi pedoman dalam pengucapan huruf-huruf dari makhrajnya, disamping memperhatikan hubungan setiap huruf dalam hal pengucapan sebelum dan sesudah huruf tersebut dan ilmu tajwid ini harus melakukan praktik dan latihan. Para ulama menganggap bacaan-bacaan al-Qur’an tanpa tajwid sebagai suatu kesalahan pada lafaz-lafaznya, baik secara jali maupun khofi.[2]
Seseorang yang membaca al-Qur’an perlu memperhatikan hal-hal berikut:
1) Membaca al-Qur’an sesudah berwudhu karena termasuk dzikir yang paling utama, meskipun boleh membacanya bagi orang yang berhadats.[3]
2) Membacanya di tempat yang bersih dan suci, untuk menjaga keagungan membaca al-Qur’an.[4]
3) Bersiwak (membersihkan mulut) sebelum mulai membaca.[5]
4) Membaca ta’awwudz (A’udzu billahi minasy syaithonirrojim”) pada permulaannya,[6] berdasarkan firman Allah:
Apabila kamu membaca al-Qur’an hendaklah meminta perlindungan kepada Allah dari Syaitan yang terkutuk. (an-Nahl (16) : 98).
Sebagian ulama mewajibkan membaca Ta’awwudz.
5) Membaca Basmalah pada permulaan setiap surah, kecuali surah al-Baraah, sebab basmalah termasuk salah satu ayat Qur’an menurut pendapat yang kuat.[7]
6) Membaca al-Qur’an dengan tartil (pelan dan terang serta memberikan kepada setiap huruf akan haknya seperti membaca panjang dan Idgam.[8] Allah berfirman:
“Dan bacalah Qur’an itu dengan perlahan-lahan (al-Muzammil (73):4)
Dari Anas bahwa ia ditanya tentang Qiraat Rasusullah, ia menjawab:”Qiraat beliau itu panjang. Kemudian ia membaca bismillaahirrahmanirrahiim, dengan memanjangkan Allah, memanjangkan Rahman dan memanjangkan Rahim.”(HR Bukhari)
Dari Ibnu Mas’ud bahwa seorang lelaki berkata padanya sesungguhnya aku biasa membaca mufassal dalam satu rakaat.” Maka Ibnu Mas’ud bertanya: ”Demikian cepatkah engkau membaca al-Qur’an seperti layaknya membaca syair saja? Sesungguhnya akan ada suatu kaum yang membaca al-Qur’an, namun al-Qur’an itu tidak sampai melewati kerongkongan mereka, padahal kalau bacaan itu sampai meresap dalam hati tentu sangat bermanfaat.”
Berkata az-Zarkasyi dalam al-Burhan: ”Kesempurnaan tartil adalah mentafkhimkan lafaz-lafaznya, dibaca dengan jelas huruf-hurufnya dan tidak mengidhgamkan satu huruf dengan huruf yang lain. Dikatakan bahwa hal ini minimal tartil. Sedang maksimalnya ialah membaca Qur’an sesuai dengan fungsi dan maknanya. Bila membaca ayat tentang ancaman hendaklah dibacanya dengan nada ancaman pula, dan bila membaca ayat yang berisi penghormatan (kepada Allah) maka hendaklah membacanya dengan sikap penuh hormat.
7) Memikirkan ayat-ayat yang dibaca, cara inilah yang dianjurkan, yaitu dengan mengkonsentrasikan hati untuk memikirkan makna yang terkandung dalam ayat-ayat yang dibacanya dan berinteraksi kepada setiap ayat dengan segenap perasaan dan kesadarannya baik ayat itu berisikan doa, istighfar, rahmat maupun azab.[9]
Allah swt berfirman:
“Ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu yang penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya.” (Sad (38) : 29)
“Diriwayatkan dari Huzaifah, ia berkata: “Pada suatu malam saya melakukan shalat bersama Nabi. Beliau membaca surah al-Baqarah, diteruskan dengan surah an-Nisaa lalu disambung dengan surah Ali Imran, semuanya dibaca dengan tartil, jelas dan perlahan. Apabila beliau menemui ayat yang mengandung tasbih, maka beliau bertasbih, bila melewati ayat yang mengandung permohonan, beliau memohon, dan bila melewati ayat yang mengandung perlindungan (taauwwudz) maka beliaupun memohon perlindungan. (HR. Muslim)
Menurut DR.Yusuf al-Qaradhawi, adab membaca secara batin yang paling besar adalah memperhatikan (tadabbur) makna-makna al-Qur’an. Arti tadabbur adalah melihat dan memperhatikan kesudahan segala urusan dan bagaimana akhirnya. Tadabbur ini dekat artinya dengan tafakkur (memikirkan).[10]
8) Khusyuk saat mendengar bacaan al-Qur’an[11]
Allah berfirman dalam QS.al-A’raf 7:204
Dan apabila dibacakan Al Quran, Maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.

Jika dibacakan al-Quran kita diwajibkan mendengar dan memperhatikan sambil berdiam diri, baik dalam sembahyang maupun di luar sembahyang.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.(QS.al-Anfal : 2)
Orang yang sempurna imannya akan mengalami keadaan yang telah d igambarkan oleh al-Qur’an diatas, jika disebut nama allah atau disebut sifat-sifat yang mengagungkan dan memuliakannya

Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu'. QS.Al-Isra’ : 109)
Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat- ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang- orang yang tuli dan buta. ( QS 25:73)

Sesungguhnya orang yang benar benar percaya kepada ayat ayat kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong. (QS.As-Sajdah:15)
Mereka sujud kepada Allah serta khusyuk. Disunahkan mengerjakan sujud tilawah apabila membaca atau mendengar ayat-ayat sajdah yang seperti ini.
Allah Telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, Kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan Kitab itu dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun.(QS az-Zumar: 23)
Hukum-hukum, pelajaran dan kisah-kisah itu diulang-ulang menyebutnya dalam Al Quran supaya lebih kuat pengaruhnya dan lebih meresap, sebahagian ahli tafsir mengatakan bahwa maksudnya itu ialah bahwa ayat-ayat Al Quran itu diulang-ulang membacanya seperti tersebut dalam mukaddimah surat Al Faatihah.
øDan (Ingatlah) ketika kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, Maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: "Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)". ketika pembacaan Telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.(QS.al-Ahqaf : 29)
Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS al-Hadid : 16)
Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.(QS.an-Nisa 82)
Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?(QS.Muhammad 24)

Kalau sekiranya kami turunkan Al-Quran Ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. dan perumpamaan-perumpamaan itu kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. (QS.al-Hasyir :21)
Maka apabila kamu Telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. (QS.94:7)
Sebagian ahli tafsir menafsirkan apabila kamu (Muhammad) telah selesai berdakwah maka beribadatlah kepada Allah; apabila kamu telah selesai mengerjakan urusan dunia maka kerjakanlah urusan akhirat, dan ada lagi yang mengatakan: apabila telah selesai mengerjakan shalat berdoalah.
9) Meresapi makna dan maksud ayat-ayat Qur’an, yang berhubungan dengan janji maupun ancaman.[12]
Ayat al-Qur’an yang menyebutkan tentang hal ini terdapat pada :
Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (QS.an-Nisa : 32)
Dan Sesungguhnya kami Telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al Quran Ini bermacam-macam perumpamaan. dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.(QS.al-Kahfi : 54)
Maka apakah mereka tidak memperhatikan perkataan (Kami), atau apakah Telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah datang kepada nenek moyang mereka dahulu?(QS.23:68)
Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat- ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang- orang yang tuli dan buta. (QS.25:73)
Kalau sekiranya kami turunkan Al-Quran Ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. dan perumpamaan-perumpamaan itu kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. (QS.al-Hasyir : 21)
Atau lebih dari seperdua itu. dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan. (QS.al-Muzammil : 4)
10) Menangis saat membaca ataupun mendengar bacaan al-Qur’an.[13]
Dan Al Quran itu Telah kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan kami menurunkannya bagian demi bagian. Katakanlah: "Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, Dan mereka berkata: "Maha Suci Tuhan kami, Sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi". Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu'. (QS.al-Isra’:106-109)
Dalam firman-Nya telah disebutkan tentang bagaimana orang-orang yang berpengetahuan (berilmu) bersujud dan menangis mendengar al-Qur’an.
Sebuah hadits Ibnu Mas’ud disebutkan bahwa ia berkata: “Rasulullah saw berkata kepadaku: “ Bacakanlah Qur’an kepadaku. Aku menjawab: Wahai Rosulullah saw, haruskah aku membacakannya kepadamu, sedang Qur’an itu diturunkan kepadamu? Ya, aku senang mendengarkan bacaan al-Qur’an dari orang lain. Lalu aku membacakan surah an-Nisa dan ketika sampai kepada ayat “Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seorang saksi (Rasul) dari tiap-tiap umat dan kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu) (An-Nisaa 41), beliau berkata: Cukup sampai disini saja. Kemudian aku berpaling kepada beliau, maka kulihat kedua mata beliau mengucurkan air mata. (HR Bukhari)
Allah juga memuji orang-orang Nasrani saat mendengar al-Qur’an dalam firman-Nya:
"Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang Telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: "Ya Tuhan kami, kami Telah beriman, Maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad s.a.w.). Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh ?".(QS.al-Maidah 83-84)
Dalam Syarh al-Muhazzab disebutkan : Cara untuk bisa menangis di saat membaca Qur’an ialah dengan memikirkan dan meresapi makna ayat-ayat yang dibaca seperti yang berkenaan dengan ancaman berat, siksa yang pedih, perjanjian dan anjuran (perintah), kemudian merenungkan betapa dirinya telah melalaikannya. Apabila cara ini tidak dapat membangkitkan perasaan sedih, penyesalan dan tangis, maka keadaan demikian harus disesali pula dengan menangis karena hal itu suatu musibah.[14]
Ibnu Majah meriwayatkan dari Anas, ia berkata: “Rasulullah bersabda:”di akhir zaman atau pada umat ini akan lahir sekelompok orang yang membaca al-Qur’an, namun Qur’an itu tidak sampai melewati kerongkongan mereka atau leher mereka. Apabila kamu melihat atau bertemu dengan mereka, maka bunuhlah!”
11) Membaguskan suara dengan membaca Qur’an, karena Qur’an adalah hiasan bagi suara dan suara yang bagus lagi merdu akan lebih berpengaruh dan meresap dalam jiwa.[15] Disebutkan dalam QS.73:4
Atau lebih dari seperdua itu. dan Bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.
Dalam sebuah hadits dinyatakan :
“Hiasilah Qur’an dengan suaramu yang merdu”(HR Ibnu Hibban)
12) Mengeraskan bacaan Qur’an karena membacanya dengan suara jahr lebih utama. Di samping itu juga dapat membangkitkan semangat dan gelora jiwa untuk lebih banyak beraktifitas, memalingkan pendengaran kepada bacaaan Qur’an dan membawa manfaat bagi para pendengar serta mengkonsentrasikan segenap perasaan untuk lebih jauh memikirkan, memperhatikan dan merenungkan ayat-ayat yang dibaca itu. Tilawah dengan suara jahr itu dikhawatirkan timbul rasa riya, atau akan mengganggu orang lain, seperti mengganggu orang yang sedang shalat, maka membaca Qur’an dengan suara rendah adalah lebih utama. [16]
Hal ini disebutkan dalam QS.17:110
Katakanlah: "Serulah Allah atau Serulah Ar-Rahman. dengan nama yang mana saja kamu seru, dia mempunyai Al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu".(QS.al-Isra’:110)
Kata merendahkan maksudnya janganlah membaca ayat Al Quran dalam shalat terlalu keras atau terlalu perlahan tetapi cukuplah sekedar dapat didengar oleh ma'mum.
Berkata Rasulullah:”Allah tidak mendengarkan sesuatu selain suara merdu Nabi yang membaca Qur’an denga suara jahr. (HR. Bukhari Muslim)
13) Para Ulama berbeda pendapat tentang membaca Qur’an dengan melihat langsung pada Mushaf dan membacanya dengan hafalan, manakah yang lebih utama? Dalam hal ini terdapat tiga pendapat:
a) Membaca langsung dari Mushaf adalah lebih utama, sebab melihat kepada mushaf merupakan ibadah, yakni membaca dan melihat.
b) Membaca diluar kepala adalah lebih utama, karena hal ini akan lebih mendorong kepada perenungan dan pemikiran makna dengan baik. Pendapat ini dipilih oleh al-Izz bin Abdus Salam. Lebih lanjut ia mengatakan: “Ada yang berpendapat bahwa membaca Qur’an secara langsung dari Mushaf itu lebih utama, karena hal ini mencakup perbuatan dua anggota yaitu lisan dan penglihatan, sedang pahala itu sesuai dengan kadar kesulitan. Pendapat demikian ini tidak benar, karena tujuan utama membaca Qur’an adalah tadabbur (memikirkan,merenungkan), berdasarkan firman Allah dalam QS.Shaad :29 :
Ini adalah sebuah Kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.
Dan menurut kebiasaan, melihat kepada Mushaf itu akan mengganggu maksud tersebut. Oleh karena itu maka pendapat di atas dipandang lemah, tidak kuat.
c) Bergantung pada situasi dan kondisi individu masing-masing. Apabila membaca dengan hafalan lebih dapat menimbulkan perasaan khusyuk, pemikiran, perenungan dan konsentrasi terhadap ayat-ayat yang dibacanya daripada membacanya melalui Mushaf, maka membaca dengan hafalan lebih utama. Tetapi bila keduanya sama maka membaca dari Mushaf adalah lebih utama.[17]
14) Selalu mengingat dan membaca al-Qur’an
Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui. (QS.al-Ahzab : 34)
Kecuali kalau Allah menghendaki. Sesungguhnya dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi.(QS.al-A’laa : 7)
Sangat memungkinkn kita lupa akan hafalan al-Qur’an sebagian atau seluruhnya,oleh karena itu Rosulullah saw menganjurkan kita untuk membiasakan diri membaca al-Qur’an, beliau bersabda:
Biasakanlah membaca Qur’an, demi Zat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, sungguh Qur’an itu lebih mudah lepas daripada unta yang lepas dari tali kekangnya. (HR.Bukhari Muslim)
15) Membaca al-Qur’an di malam hari
Kapanpun kita dapat membaca al-Qur’an, terutama para penghafal al-Qur’an tidak berhenti lisannya dari bacaan al-Qur’an, namun malam rupanya punya satu rahasia sehingga diabadikan dalam Firman-Nya tentang Ahli Kitab:
Mereka itu tidak sama; di antara ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang). (QS.Ali Imran :113)
Dan bertasbihlah kepada-Nya pada beberapa saat di malam hari dan di waktu terbenam bintang-bintang (di waktu fajar). (QS.ath-Thuur :49)
16) Berbuat sesuai dengan al-Qur’an
Tidak sekedar membaca, kitapun diperintah untuk melakukan apa yang telah termaktub dalam al-Qur’an, karena al-Qur’an sebagai pegangan hidup tempat kembali ketika kita kehilangan kendali, sebagaimana telah disampaikan oleh ibunda Aisyah ra. bahwa akhlaq Rasulullah saw teladan kita adalah al-Qur’an
Orang-orang yang telah kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, Maka mereka Itulah orang-orang yang rugi. (QS. al-Baqarah : 121)
Di dalam ayat ini terbersit ma’na bahwa kita tidak boleh merubah dan mentakwilkan Al Kitab sekehendak hati.
Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, Itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (QS. Ali Imran: 7)
Ayat yang muhkamaat ialah ayat-ayat yang terang dan tegas Maksudnya, dapat dipahami dengan mudah. Ayat-ayat mutasyaabihaat ialah ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat ditentukan arti mana yang dimaksud kecuali sesudah diselidiki secara mendalam; atau ayat-ayat yang pengertiannya Hanya Allah yang mengetahui seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan yang ghaib-ghaib misalnya ayat-ayat yang mengenai hari kiamat, surga, neraka dan lain-lain.
Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS.Ali Imran:31)
Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatnya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia. (QS.Yasin:11)
Peringatan yang diberikan oleh Nabi Muhammad s.a.w. hanyalah berguna bagi orang yang mau mengikutinya.

Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang Telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus. (QS. az-Zukhruf: 43)
Demikian beberapa adab ketika kita berinteraksi dengan al-Qur’an, baik itu membaca ataupun mendengarnya. Dengan membacanya berarti kita juga dapat khusyuk memperhatikan ayat-ayat yang kita baca sehingga bisa berinteraksi dengan akal dan menghadirkan hati, menikmati setiap firman-Nya, memperhatikan setiap kisah dan perumpamaan di dalamnya, bersungguh-sungguh mencatat dan melaksanakan perintah-perintah-Nya serta berusaha meninggalkan larangan-larangan-Nya. Jika mendapati ayat tentang rahmat maka penuhi diri dengan kebahagiaan, jika mendapati ayat ahzab hendaklah mohon perlindungan, bersujud ketika mendapati ayat sajdah, jika mendapati ayat tasbih hendaklah kita bertasbih, jika mendapati doa maka kita memohon.










DAFTAR PUSTAKA
Al-Qaradhawi, Yusuf, Bagaimana Berinteraksi dengan al-Qur’an, cet. 4, Jakarta: Pustaka
al-Kautsar, 2006
Al-Qattan, Manna Khalil, Studi Ilmu-ilmu Qur’an, cet. 3, Jakarta : Litera AntarNusa,
1996.
Al-Qur’an dan terjemahnya, Departemen Urusan Agama Islam Wakaf, Da’wah dan
Irsyad Kerajaan Saudi Arabia : 1415 H
[1] Manna Khalil al- Qattan, Studi Ilmu-ilmu Qur’an, cet. 3, Jakarta : Litera AntarNusa, 1996, hal 265
[2] Ibid, hal 265-266
[3] Ibid, hal 269
[4] Ibid, hal 270
[5] Ibid, hal 270
[6] Ibid,hal 270
[7] Ibid,hal 270
[8] Ibid, hal 271
[9] Ibid, hal 271
[10] dr. Yusuf al-Qaradhawi,Bagaimana Berinteraksi dengan al-Qur’an, cet. 4, Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2006,hal 177
[11] Manna Khalil al- Qattan, Studi Ilmu-ilmu Qur’an, cet. 3, Jakarta : Litera AntarNusa, 1996, Manna Khalil al- Qattan, Study Ilmu-ilmu Qur’an, cet. 3, Jakarta : Litera AntarNusa, 1996, Ibid,hal 270
[12] Ibid,hal 271-272
[13] dr. Yusuf al-Qaradhawi,Bagaimana Berinteraksi dengan al-Qur’an, cet. 4, Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2006, hal 180
[14] Manna Khalil al- Qattan, Studi Ilmu-ilmu Qur’an, cet. 3, Jakarta : Litera AntarNusa, 1996, hal 272-273
[15] Ibid, hal 273
[16] Ibid, hal 273
[17] Ibid, hal 274-275

Tidak ada komentar: